Melankolis Kronis

padamu saja (tanpa tanda baca)

Posted in puisi, tentang berbagi, tusuk gigi by Melita Tarisa on April 26, 2008

padamu saja
kutuliskan tentang resah ini
lalu untukmu
kubisikkan setiap bahagiaku

mendekat
lalu dekaplah aku lebih erat
entah lewat kata
atau biar diam menata
titik waktu yang kita bagi

sedikit saja
aku
kamu
dan
makna
tanpa tanda baca

Tentang sesuatu

Posted in Curhat! by Melita Tarisa on April 22, 2008

Aku ingin berdiri di hadapan dunia
merentang tangan;
menarik napas panjang;
sebelum sesak sendiri
ingin aku
menyapa angin;
menyambut semua

biar tinggal seorang aku
yang meritik tangis
sambil meneriakkan sesuatu
pada mereka yang tak dapat mendengar.

Unstuck the unfinished

Posted in poems, seseorang di suatu hari by Melita Tarisa on April 16, 2008

I thought you made a great show,

a stand-up one even

and when I put aside the thoughtful plea of an encore,

just as I wanted to hum a new melody,

you got on stage again

crowning your smile

and I can’t help being extra happy to it

though I know this interlude of yours lasts no more than 14 seconds.

Believe me, I counted!

Capturing You!

Posted in Curhat!, poems, satu-tanya-yang-tak-bisa-kujawab, tentang berbagi, tusuk gigi by Melita Tarisa on April 12, 2008

There are times when words failed us.

Those are in which you couldn’t find the right words thus things were left unsaid;

or ones with you kept being misinterpreted.

Silence is gold, they say.

For in the moment you listen,

you might have your answer.

But while you could almost taste the sadness in someone’s eyes

and later on soothe the shivering tears in the gold-silent-moment,

words are with you all the way.

Waiting the perfect fit for the most password-protected heart.

I see what you do

and your nonverbal expressions are telling me something,

just please hint me what to do

for at times, silence fails us too!

Tentang Cinta (lagi)

Posted in Curhat! by Melita Tarisa on April 11, 2008

Teman saya menulis seperti ini di blognyah :

“Kebahagiaan hidup saya adalah saat saya mendapatkan seorang yang menerima saya apa adanya. Baik buruk saya. Kekurangan dan kelebihan saya. Gampang kan?

Tulisan itu saya komentari begini :

“Tentunya sangat menyenangkan bisa bertemu dengan orang yang seperti itu. Tapi, kadang gw merasa sangat egois kalau merumuskan seorang spesial itu sebagai orang yang mau menerima gw apa adanya. Like taking him for granted.

Soalnya cinta kita untuk dia jadi narsistik kan?
“Kenapa kamu sayang sama dia?”
“Dia mau menerima gw apa adanya.”

Jadi, yang kamu cintai itu ‘dia’ atau ‘cintanya terhadap kamu’? :’)”

Ditanggapinya begini :

” Gw tambahin….Gw bisa menerima dy apa adanya….Dan dia bisa menerima gw apa adanya….Asal ga ada topeng di antara kita….”

Ingin saya tangapi begini :

Bukan masalah “impasnya” yang gw pertanyakan, Bung! Tapi akan cinta yang memakan habis diri pada seorang dia yang mungkin gak menerima diri lo apa adanya. Memangnya gak mungkin puas dan bahagia mencintai seseorang karena “dia adalah dia”, bukannya karena penerimaan dia akan kita?”

Ah, mungkin gw harus jatuh cinta dulu untuk tahu jawab pastinyah. But I always say, “Siksa aku, cinta!” *halah*