Melankolis Kronis

Selamat Ulang Tahun, Kamu

Posted in puisi, seseorang di suatu hari by Melita Tarisa on March 27, 2008

Kamu,
bolehkah kutahu
saat jemarimu menggenapkan hari?

*Selamat ulang tahun untuk seorang dia, entah kapan, di mana, dan bagaimana*

Advertisements

Menulis Tentang Dia

Menulis tentang dia

Saat debar jantung ini terasa nyata.

Menutup mata dan mendengar degupku sendiri.

Ada sepi yang menyakitkan.

Ada satu yang dinantikan.

Menulis tentang dia, sekarang.

*Bo’, ini tulisan lama gw, tapi ternyata masih nyambung2 aja ya, sama ruang dan waktu yang ada sekarang inih.. Haha. Moko, Disa, pahamilah saya. Jangan malah diledek ah! ;p

(Masih) Tanpa Judul

Posted in Curhat!, menangis, puisi, satu-tanya-yang-tak-bisa-kujawab, tentang berbagi, tusuk gigi by Melita Tarisa on March 26, 2008

Begitukah adanya aku dalam pikirmu?
Nyata dalam beberapa potong kata yang dibisikkan neuronmu?

.
.
.
Tahukah kamu,
dipenjarakanlah kita oleh satu yang selalu kita banggakan;
yang katanya membedakan kita dari yang lain.

Memang bukan salahmu (sepenuhnya),
mungkin aku.
Basi!

Tentang Berbagi

Posted in puisi, satu-tanya-yang-tak-bisa-kujawab, tentang berbagi, tusuk gigi by Melita Tarisa on March 22, 2008

Sekarang
kutimbang satu langkah dalam hidup
Salahkah bila ingin kutahu pendapatmu?
Ah,
selagi kita belum saling terbuka,
kunci rapat-rapat pintunya!
Sebelum menyakiti;
sebelum disakiti;
ya, jangan sampai tersakiti.
Maumu begitu.
Tapi aku siap menyambutnya
sakit
pedih
perih,
juga bahagia.

Nah, maukah kamu berbagi denganku?

(Masih) Tentang Seseorang

Posted in puisi, satu-tanya-yang-tak-bisa-kujawab, seseorang di suatu hari, tusuk gigi, unexpected by Melita Tarisa on March 21, 2008

Tentang cinta
tak dapat kita tuliskan semuanya
meresap
menggegap
meledak
merintih
meretas
dan menghidupi dia

Tentang seseorang pun
habis akal mencari kata
“Jadilah 500-ku,”
Maknai sesukamu!
“Jadikan aku ceritamu,”
Artikan sebebasnya!

Keterbatasan inilah yang memegahkannya.

Tentang Seorang Dia

Posted in puisi, seseorang di suatu hari, unexpected by Melita Tarisa on March 20, 2008

Entah bagaimana,
potongan waktu dengan aku dan kamu di dalamnya terasing dari dunia.
Menepi pada sebuah pulau;
tinggal dan diam di sana.
Dan mengapa kupu-kupu itu akhirnya tiba
melengkapi ketidaktahuan tentang seorang dia.
Mungkin,
kita biarkan saja potongan tersebut beranak cucu.
Menyesakkan pulau!
Suatu waktu kita ke sana,
sementara mereka menari untuk kita, dengan sendirinya kita akan mengerti.

Tentang Adikku

Posted in adik, keluarga, sedih by Melita Tarisa on March 13, 2008

Adikku sayang,

tentang dirimu aku tahu sedikit sekali.

Tiga ratus lima puluh sembilan hari yang membedakan usiaku denganmu

seakan meniriskan sejumlah itu pula misteri tentangmu.

Adikku sayang,
adakah artinya aku ingat

siapa teman-teman pertamamu;
lagu-lagu yang dulu sering kamu mainkan dengan gitar pertamamu;

piala pertamamu;

bahkan corak piring makan pilihanmu;
sementara kita beranjak semakin jauh dari masa itu?

Kamu bukan lagi adik kecil yang kuajak berebut selimut;

tidak lagi bersama-sama dimarahi Papa-Mama;

dan sudah jauh terlewati saat kita  mencoret-coret lemari kayu dengan kapur.

Menjadi apa aku dan kamu kini

adalah sebuah tanya yang ingin aku jawab.

Seorang kakakkah aku bagimu?

Warna kesukaanmu saja aku tidak tahu;

duduk dan mendengarkan ceritamu pun, jarang kulakukan;

tentang mimpimu, aku masih berusaha memahami.

Adikku sayang,

mungkin sulit untuk dipahami,

tapi aku sangat senang bahwa hingga saat ini,

setelah lepas kupanggil kamu, “Ade,”

kamu tetap memilih memanggilku, “Kakak.”

*Untuk adik laki-lakiku yang kepadanya, ketika berpisah di tanah Malaysia dua tahun lalu, kusembunyikan air mata dan kutitipkan rindu pada peluknya. “Maaf ya, De’. I’m not being a good sister while to me you’re a brother I’m proud of. Bwt gw, lo adalah gitaris dan designer pertama serta utama yang gw kagumi. Life’s hard, Ki, but hopefully you can make the best of it. Selamat berjuang di sana. Love you.”*

~ after a little chat with my brother whom I came to miss a lot

Seeing Someone

Posted in Curhat!, poems, seseorang di suatu hari, Si Teman, unexpected by Melita Tarisa on March 10, 2008

Out of the blue comes a rush of illuminating joy

for seeing you lights up my heart- let alone brighten my day.

How you do it with just a silent “Hi!” left me clueless and

for whatever reasons, unexpectedly, you do it again and again..

*untuk seorang teman yang baru saja berbagi denganku*