Melankolis Kronis

auf wiedersehen.

Posted in Uncategorized by Melita Tarisa on July 27, 2011
Saya pikir
saya belum pernah cukup berterima kasih pada kamu.
Untuk setiap argumen yang bertumpuk menjadi perdebatan yang berarti. 
Kamu sungguh memanjakan saya dengan menjadi lawan diskusi yang keras kepala.
Pun memahami sebagai perempuan saya paling anti ditempatkan dalam pandangan dan peran tradisional. 
Terima kasih pernah menerima saya sebagai manusia.

Terima kasih telah mengajak saya sedikit lebih berani untuk menindaklanjuti perasaan saya
dan menimbulkan keinginan untuk membuka hati meski masih malu-malu. 
Maaf saya sangat protektif pada hati saya dan malah mungkin pernah menyakiti milikmu.

Terima kasih untuk setiap usahamu untuk tidak merokok di dekat saya 
juga seringkali melindungi saya dari asap rokok orang-orang sekitar.
Ada banyak printilan tingkah-tingkah kamu yang mungkin bagi orang lain remeh dan sederhana, 
tapi berhasil menimbulkan kesan emosional yang mendalam bagi saya.

Terima kasih untuk segalanya,
yang kita tulis bersama dalam potongan waktu yang tersedia untuk kita.
Potongan waktu yang kita hormati sebagai pengingat bahwa kita pernah ada bersama 
meski tanpa nama yang pasti.
Potongan waktu yang kita cukupkan perjalanannya,
selesai sudah.

Selamat melanjutkan perjalanan.
Tentu kita akan bertemu lagi. Semoga dengan cara yang lebih dewasa untuk menyikapi pengalaman.

I wish you enough.
Most of all, I wish you love. :)
Advertisements

Seratus delapan puluh empat hari yang lalu.

Posted in Uncategorized by Melita Tarisa on April 5, 2011

Janjimu, di sini akan kau ucapkan lagi selamat pagi.

Jadilah aku membeku sampai kamu datang lagi.

kafein.

Posted in Uncategorized by Melita Tarisa on January 13, 2011

Sore itu kubuatkan kamu segelas kopi susu
Dan kuseduh untukku sendiri segelas teh bercampur madu.
Hangat.
Nyaman.
Di antara aroma kopi dan teh yang beradu.
Lekat.
Perlahan.
Dan pasti, sudah layak dan sepantasnya, aku dan kamu nantinya. Begitu.
Larut.
Terus.
Pekat.

dari sana.

Posted in Uncategorized by Melita Tarisa on June 22, 2010

menjerang air hanya untuk menyelami aroma kopi yang baru diseduh
mematik api hanya untuk memancing wangi tembakau dari sebatang rokok
lalu tenggelam dalam malam

bulan begitu bulat
dan menguning begitu cepat
begitupun saya tidak pernah paham kenapa kamu tidak lagi datang

pada suatu hari

Posted in Uncategorized by Melita Tarisa on April 19, 2009

lekat jejakmu pada suatu hari,
yang terik dijamu matahari
dan
sekilas kau temukan aku,
yang sibuk berpacu dengan waktu

sejenak
dan selekat mungkin sepotong waktu terbagi
antara beribu tanya dan misteri lainnya
hingga siaplah kita beranjak

tumpukanlah pikirmu pada sebuah harapan,
sambil terus tempatkan mimpimu dalam genggaman

suatu hari akan tiba lagi
saat kita menyelinap dari dunia untuk saling menemani

(8)

Posted in Uncategorized by Melita Tarisa on February 2, 2009

tempatkan aku di sudut hatimu
yang tersembunyi, berdebu, dan semu

lalu mungkin kita bisa duduk bicara
meski hanya untuk sementara

ada yang harus kusampaikan
sebelum semua jadi terlalu menyakitkan

sayang.

(7)

Posted in Curhat! by Melita Tarisa on December 8, 2008

I seek for the moment you’ll understand
you’re my iced caramel macchiato.

Tagged with:

(6)

Posted in Curhat! by Melita Tarisa on November 30, 2008

Sebentuk asa agar kamu tetap tinggal mati kemarin.

Mungkin cinta ingin aku belajar untuk merelakan,

tapi maukah kamu beranjak perlahan saja?

Beri aku sesuatu untuk dikenang dengan tenang.

Tagged with: ,

(5)

Posted in Curhat! by Melita Tarisa on November 15, 2008

Bukan, bukan Chairil Anwar. Jangan Shakespeare! Kamu saja.

Ingin dengar suaramu, tanyakan kabarku.

Lalu senyum itu, yang lahirkan maaf.

Tagged with:

Ajari aku sesuatu tentang hidup

Posted in Curhat! by Melita Tarisa on November 9, 2008

Hari ini,
seorang dari kita pergi tiada dan
seorang baru datang mengadu.
Berpijak di tempat tubuh tua renta melepas lelah dan tawa refleks pertama kali terbentuk,
air mata berlomba melompat keluar dari hatiku.
Di antara wangi ingatan masa muda dan gairah merengkuh kekinian,
pikirku berpendar, pecah warna hingga sulit kurangkumkan.
Saat ini,
seorang dari kita pergi tiada dan seorang baru datang mengadu.

Bagaimana memaknainya?