auf wiedersehen.
Saya pikir saya belum pernah cukup berterima kasih pada kamu. Untuk setiap argumen yang bertumpuk menjadi perdebatan yang berarti. Kamu sungguh memanjakan saya dengan menjadi lawan diskusi yang keras kepala. Pun memahami sebagai perempuan saya paling anti ditempatkan dalam pandangan dan peran tradisional. Terima kasih pernah menerima saya sebagai manusia. Terima kasih telah mengajak saya sedikit lebih berani untuk menindaklanjuti perasaan saya dan menimbulkan keinginan untuk membuka hati meski masih malu-malu. Maaf saya sangat protektif pada hati saya dan malah mungkin pernah menyakiti milikmu. Terima kasih untuk setiap usahamu untuk tidak merokok di dekat saya juga seringkali melindungi saya dari asap rokok orang-orang sekitar. Ada banyak printilan tingkah-tingkah kamu yang mungkin bagi orang lain remeh dan sederhana, tapi berhasil menimbulkan kesan emosional yang mendalam bagi saya. Terima kasih untuk segalanya, yang kita tulis bersama dalam potongan waktu yang tersedia untuk kita. Potongan waktu yang kita hormati sebagai pengingat bahwa kita pernah ada bersama meski tanpa nama yang pasti. Potongan waktu yang kita cukupkan perjalanannya, selesai sudah. Selamat melanjutkan perjalanan. Tentu kita akan bertemu lagi. Semoga dengan cara yang lebih dewasa untuk menyikapi pengalaman. I wish you enough. Most of all, I wish you love.![]()
Seratus delapan puluh empat hari yang lalu.
Janjimu, di sini akan kau ucapkan lagi selamat pagi.
Jadilah aku membeku sampai kamu datang lagi.
kafein.
Sore itu kubuatkan kamu segelas kopi susu
Dan kuseduh untukku sendiri segelas teh bercampur madu.
Hangat.
Nyaman.
Di antara aroma kopi dan teh yang beradu.
Lekat.
Perlahan.
Dan pasti, sudah layak dan sepantasnya, aku dan kamu nantinya. Begitu.
Larut.
Terus.
Pekat.
dari sana.
menjerang air hanya untuk menyelami aroma kopi yang baru diseduh
mematik api hanya untuk memancing wangi tembakau dari sebatang rokok
lalu tenggelam dalam malam
bulan begitu bulat
dan menguning begitu cepat
begitupun saya tidak pernah paham kenapa kamu tidak lagi datang
pada suatu hari
lekat jejakmu pada suatu hari,
yang terik dijamu matahari
dan
sekilas kau temukan aku,
yang sibuk berpacu dengan waktu
sejenak
dan selekat mungkin sepotong waktu terbagi
antara beribu tanya dan misteri lainnya
hingga siaplah kita beranjak
tumpukanlah pikirmu pada sebuah harapan,
sambil terus tempatkan mimpimu dalam genggaman
suatu hari akan tiba lagi
saat kita menyelinap dari dunia untuk saling menemani
(8)
tempatkan aku di sudut hatimu
yang tersembunyi, berdebu, dan semu
lalu mungkin kita bisa duduk bicara
meski hanya untuk sementara
ada yang harus kusampaikan
sebelum semua jadi terlalu menyakitkan
sayang.
(6)
Sebentuk asa agar kamu tetap tinggal mati kemarin.
Mungkin cinta ingin aku belajar untuk merelakan,
tapi maukah kamu beranjak perlahan saja?
Beri aku sesuatu untuk dikenang dengan tenang.
(5)
Bukan, bukan Chairil Anwar. Jangan Shakespeare! Kamu saja.
Ingin dengar suaramu, tanyakan kabarku.
Lalu senyum itu, yang lahirkan maaf.
Ajari aku sesuatu tentang hidup
Hari ini,
seorang dari kita pergi tiada dan
seorang baru datang mengadu.
Berpijak di tempat tubuh tua renta melepas lelah dan tawa refleks pertama kali terbentuk,
air mata berlomba melompat keluar dari hatiku.
Di antara wangi ingatan masa muda dan gairah merengkuh kekinian,
pikirku berpendar, pecah warna hingga sulit kurangkumkan.
Saat ini,
seorang dari kita pergi tiada dan seorang baru datang mengadu.
Bagaimana memaknainya?
leave a comment